Wednesday, 18 September 2013
Posted by Aswad Firmansyah Hanafi
No comments | Wednesday, September 18, 2013
A hope was flaring up in the heart
That push the blood’s current to all parts of body
Oh the heart always grumbling
There was a string of intimate words
That make the restlessness in the heart
Oh
the love was staying over there
I
hope you to know
There
was a literary man who was waiting you here
He
was expecting to get an evident love
Oh
the love spreading in the ocean
I
hope your approaching for me
By the wave, you will kick me
By the wind, you will refresh my heart
By the water, you will put the fire down in my
heart
And by the stars was accompanying in my dream
It will take possession to the soul that waiting
the presence of love
Oh
the love, show your shine
It
will light at each of darkness
Oh
the love, show your own evidence
It
will carry the stalk of flower which is picked by you
Look
out all obstacles in the ocean of love
It
will kick out the soul and body
And
also the beauty of your love
I entrust a string of love words to birds and
Will bring you to flyand approach me
By the evidence of love
What I had never feel it
Here
I’m the literary man
I’m feeling the loneliness and
I always desire to get the flattery of evident love
And it can make me happy and happy in along my
life
HansChild48,
Tuesday, 22nd of January 2008
Tuesday, 27 August 2013
Posted by Aswad Firmansyah Hanafi
No comments | Tuesday, August 27, 2013
Dalam
kehidupan di zaman modern penuh fitnah dewasa ini, kita jumpai banyak
sekali hamba Allah yang hidup dipenuhi kegelisahan berkepanjangan. Dan salah
satu kegelisahan tersebut bersumber dari kekhawatirannya akan jatuh
miskin. Inilah fenomena nyata yang membuktikan betapa faham materialisme
telah mendominasi mayoritas hamba Allah. Kebanyakan hamba Allah saat
ini jauh lebih takut akan kehilangan harta daripada kehilangan iman dan
keyakinannya akan Allah Sang Pencipta jagat raya. Banyak hamba Allah telah
menjadikan kesuksesan dalam kehidupan dunia sebagai tujuan utamanya.
Padahal Nabi Muhammad SAW memperingatkan kita
bahwa jika dunia telah menjadi fokus perhatian utama, maka hidup
seseorang bakal berantakan dan kemiskinan bakal menghantui dirinya
terus-menerus.
“Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah
cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui
kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang
telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)
Dan sebaliknya, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa hanya orang yang niat utamanya ialah kehidupan akhirat, maka hidupnya bakal berada dalam penataan yang rapih dan hidupnya akan dihiasi dengan kekayaan hakiki, yakni kekayaan hati. Bahkan Nabi Muhammad SAW menjamin orang tersebut bakal memperoleh dunia dengan jalan dunia yang datang kepada dirinya secara tunduk bahkan hina, bukan sebaliknya, ia yang harus mengejar dunia dengan hina sehingga merendahkan martabat diri.
“Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya
Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam
hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan
tunduk).” (HR Ibnu Majah 4095)
Apa yang dapat kita simpulkan dari hadits Nabi Muhammad SAW di atas? Kesimpulannya ialah jika seorang hamba hidup
dengan senantiasa sadar dan yakin bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki
sesungguhnya dan bahwa tugasnya sebagai orang beriman ialah
terus-menerus mengokohkan keyakinan akan hidup yang sesungguhnya ialah
di kampung akhirat nan kekal, bukan di negeri dunia nan fana ini, maka
dengan sendirinya Allah-pun akan membalas keyakinannya yang mulia dan
benar itu dengan balasan yang selayaknya sebagaimana Allah sendiri
janjikan di dalam KitabNya:
”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS An-Nahl ayat 97)
Barang siapa beramal sholeh, maka Allah jamin kehidupannya bakal baik
di dunia dan Allah bakal balas dengan yang jauh lebih baik dari amal
sholehnya di akhirat kelak. Namun, saudaraku, itu semua dengan syarat
yang sangat fundamental, yaitu ”dalam keadaan beriman.” Dan iman yang
paling pokok ialah bertauhid. Termasuk di dalamnya ialah hanya
bergantung kepada Allah Yang Maha Ahad (Esa), tidak bergantung kepada
apapun atau siapapun selain Allah.
Oleh karenanya, Nabi Muhammad SAW memberikan
kabar gembira kepada setiap muwahhid (ahli tauhid). Bahwa hidup mereka
bakal dijauhkan dari kemiskinan. Dan untuk memperoleh jaminan tersebut
ternyata cukup dengan setiap kali pulang ke rumah membaca ayat pertama
surah Al-Ikhlas sebelum masuk ke dalam rumah. Tentunya itu semua
dilakukan bukan sekedar sebagai mantera berupa komat-kamit di bibir
belaka. Namun ia mestilah diiringi dengan keyakinan penuh akan makna
dari ucapan kalimat tersebut: “Qul huw-Allahu Ahad” (Katakanlah: Allah
itu Maha Esa). Artinya, ucapkanlah sambil meyakini sedalam mungkin di
dalam hati bahwa tidak ada tempat selain Allah untuk memohon dan
mengharapkan datangnya rezeki berkah yang bakal mencukupi hidup kita
plus hidup anak-istri plus biaya kita untuk beribadah, beramal,
berdakwah dan berjihad di jalan Allah Ta’aala.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa
membaca “Qul huw-Allahu Ahad” (surah Al-Iklash ayat pertama) ketika
masuk ke dalam rumahnya, maka kefakiran (kemiskinan) bakal tertolak dari
penghuni rumah tersebut dan kedua tetangganya.” (HR Thabrani)
”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan
sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku
berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku
berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan
manusia (penagih hutang/debt collector).”
Syukron,
Wallahu a'lamu bish-showaab
Posted by Aswad Firmansyah Hanafi
No comments | Tuesday, August 27, 2013
Sholat merupakan komunikasi langsung antara seorang hamba dengan
Robbnya (Allah swt) sehingga diperlukan kekhusyu’an dan ketenangan. Di
antara hal yang disepekati para ulama adalah bahwa banyaknya gerakan
dalam sholat yang tidak termasuk dalam
gerakan sholat itu sendiri baik disengaja atau karena lupa maka membatalkan sholat.
Para ulama Syafi’iyah memang mengembalikan makna gerakan yang banyak kepada kebiasaan yang lazim yaitu tiga kali gerakan atau lebih secara berturut-turut. Dan pengertian berturut-turut adalah suatu gerakan yang bersambung dengan gerakan yang lainnya.
Namun demikian untuk melihat bagaimana sebenarnya permasalahan ini ada baiknya kita melihat apa yang dikatakan oleh Imam Nawawi yang dinukil oleh Sayyid Sabiq didalam bukunya Fiqhus Sunnah, bahwa Imam Nawawi mengatakan, ”Perbuatan yang tidak termasuk dalam pekerjaan shalat jika ia menimbulkan banyak gerak itu membatalkan, tetapi jika hanya menimbulkan sedikit gerak, itu tidaklah membatalkan. Seluruh ulama sepakat dalam hal ini, tetapi dalam menentukan ukuran yang banyak atau gerak yang sedikit terdapat empat pendapat.”
Imam Nawawi memilih yang keempat, ”Adapun pendapat yang shahih dan masyhur ialah mengembalikan soal itu kepada kebiasaan yang lazim. Jadi yang biasa dianggap sedikit oleh orang banyak, seperti memberi isyarat ketika menjawab salam, menanggalkan sandal, melepaskan sorban dan meletakkannya, juga mengenakan pakaian yang ringan atau melepaskannya, begitu pula mengambil benda kecil atau meletakkannya, menolak orang yang hendak lewat di depan atau menggosok lendir di baju dan lainnya, semua itu tidaklah membatalkan. Akan tetapi, kalau menurut orang pekerjaan itu dikategorikan gerak yang banyak, seperti banyak melangkah dan berturut-turut atau melakukan perbuatan yang sambung-menyambung, hal itu membatalkan.”
Selanjutnya, kata Nawawi, ”Sahabat sepakat bahwa bergerak banyak yang membatalkan itu ialah jika berturut-turut. Jadi, jika gerakannya berselang-seling, tidaklah membatalkan shalat, seperti melangkah kemudian berhenti sebentar, lalu melangkah lagi selangkah atau dua langkah, yakni secara terpisah-pisah. Seandainya ini diulang-ulang walaupun sampai seratus langkah atau lebih tidaklah apa-apa. Adapun gerakan ringan seperti menggerakkan jari untuk menghitung tasbih atau disebabkan gatal dan lainnya, hal itu tidaklah membatalkan shalat walaupun dilakukan secara berturut-turut dan hukumnya hanya makruh. Syafi’i telah menghitung-hitung bacaan ayat dengan cara menggenggamkan tangan tidaklah membatalkan shalatnya, tetapi sebaiknya hal itu ditinggalkan.” (Fiqhus Sunnah edisi terjemahan juz I hal 411 – 412)
gerakan sholat itu sendiri baik disengaja atau karena lupa maka membatalkan sholat.
Para ulama Syafi’iyah memang mengembalikan makna gerakan yang banyak kepada kebiasaan yang lazim yaitu tiga kali gerakan atau lebih secara berturut-turut. Dan pengertian berturut-turut adalah suatu gerakan yang bersambung dengan gerakan yang lainnya.
Namun demikian untuk melihat bagaimana sebenarnya permasalahan ini ada baiknya kita melihat apa yang dikatakan oleh Imam Nawawi yang dinukil oleh Sayyid Sabiq didalam bukunya Fiqhus Sunnah, bahwa Imam Nawawi mengatakan, ”Perbuatan yang tidak termasuk dalam pekerjaan shalat jika ia menimbulkan banyak gerak itu membatalkan, tetapi jika hanya menimbulkan sedikit gerak, itu tidaklah membatalkan. Seluruh ulama sepakat dalam hal ini, tetapi dalam menentukan ukuran yang banyak atau gerak yang sedikit terdapat empat pendapat.”
Imam Nawawi memilih yang keempat, ”Adapun pendapat yang shahih dan masyhur ialah mengembalikan soal itu kepada kebiasaan yang lazim. Jadi yang biasa dianggap sedikit oleh orang banyak, seperti memberi isyarat ketika menjawab salam, menanggalkan sandal, melepaskan sorban dan meletakkannya, juga mengenakan pakaian yang ringan atau melepaskannya, begitu pula mengambil benda kecil atau meletakkannya, menolak orang yang hendak lewat di depan atau menggosok lendir di baju dan lainnya, semua itu tidaklah membatalkan. Akan tetapi, kalau menurut orang pekerjaan itu dikategorikan gerak yang banyak, seperti banyak melangkah dan berturut-turut atau melakukan perbuatan yang sambung-menyambung, hal itu membatalkan.”
Selanjutnya, kata Nawawi, ”Sahabat sepakat bahwa bergerak banyak yang membatalkan itu ialah jika berturut-turut. Jadi, jika gerakannya berselang-seling, tidaklah membatalkan shalat, seperti melangkah kemudian berhenti sebentar, lalu melangkah lagi selangkah atau dua langkah, yakni secara terpisah-pisah. Seandainya ini diulang-ulang walaupun sampai seratus langkah atau lebih tidaklah apa-apa. Adapun gerakan ringan seperti menggerakkan jari untuk menghitung tasbih atau disebabkan gatal dan lainnya, hal itu tidaklah membatalkan shalat walaupun dilakukan secara berturut-turut dan hukumnya hanya makruh. Syafi’i telah menghitung-hitung bacaan ayat dengan cara menggenggamkan tangan tidaklah membatalkan shalatnya, tetapi sebaiknya hal itu ditinggalkan.” (Fiqhus Sunnah edisi terjemahan juz I hal 411 – 412)
Jadi batal tidaknya gerakan—yang bukan gerakan sholat—sebanyak tiga
kali di dalam sholat dikembalikan kepada kebiasaan yang lazim. Jika
memang kebiasaan masyarakat setempat menganggap bahwa tiga kali gerakan
adalah tidak termasuk dalam banyak gerakan maka diperbolehkan dan jika
masyarakat menganggap sebaliknya maka batal sholatnya. Sebagaimana
hadits Rasulullah saw bahwa beliau saw sedang sholat sambil menggendong
Umamah binti Zainab binti Rasulullah saw dari Abil ‘Ash bin Robi’ah bin
Abdisy Syams.. Tatkala beliau saw bersujud maka beliau saw meletakkannya
dan apabila beliau saw berdiri kembali menggendongnya.” (HR Bukhori)
Syukron,
Sumber: Era Muslim. Media Rujukan
Saturday, 24 August 2013
Posted by Aswad Firmansyah Hanafi
No comments | Saturday, August 24, 2013

Seperti halnya penuturan Anas ra dalam sebuah riwayatnya, Rasulullah SAW bersabda,
"Bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan bermuka tampan dan bersuara merdu. Sedangkan Nabimu adalah yang terbagus raut mukanya dan merdu suaranya,"
(HR. At-Tirmidzi).
Suara Rasulullah SAW ternyata tidak hanya merdu saja, namun juga memiliki kekuatan suara yang cukup dahsyat sehingga orang-orang jauh pun bisa mendengar suara beliau.
Banyak Riwayat yang Mengisahkan
Istri Beliau, Rasulullah SAW yang bernama Aisyah, pernah menceritakan bahwa pada suatu ketika, tepatnya pada hari Jumat, Rasulullah SAW sedang duduk di atas mimbar di masjid. Ketika itu Rasulullah SAW bersabda kepada para manusia,
"Duduklah kalian."
Sabda Rasulullah yang demikian itu ternyata tidak hanya didengar oleh orang-orang yang berada di masjid itu saja, akan tetapi didengar pula oleh Abdullah bin Rawahah yang pada saat itu sedang berada di wilayah Bani Graham. Saat itu Abdullah bin Rawahah pun langsung duduk di tempat yang jaraknya cukup jauh dari masjid itu. Padahal saat itu belum ada pengeras suara seperti saat ini.
Dalam riwayat lainnya, Abdurrahman bin Mu'adz yang juga termasuk salah satu sahabat Rasulullah SAW menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW sedang menceramahi para sahabat-sahabatnya di Mina.
Rasulullah SAW bersabda,
"Bawalah kerikil untuk melempar."
Demikian ucap Rasulullah SAW ketika membimbing para sahabat untuk beribadah.
Sementara itu Abdurrahman sendiri
Tidak hanya itu, pada suatu ketika, Bara' bercerita bahwa Rasulullah SAW pernah berceramah kepadanya dan para sahabat di sekelilingnya. Namun suara Rasulullah SAW ketika itu ternyata mampu didengar oleh para muslimah yang berada dalam kamar pingitan mereka.
Suara Dapat Didengar dari Jarak Cukup Jauh
Pengalaman lainnya juga diungkapkan oleh Ummu Hani. Ia menuturkan bahwa pada suatu malam ketika dirinya sedang membaringkan punggung di rumahnya. Suasana ketika itu cukup sepi, namun tiba-tiba ia mendengar suara Rasulullah SAW. Ummu Hani merasa heran, dari itu ia mencoba mencari-cari Rasulullah SAW di rumahnya. Namun ternyata Rasulullah SAW tidak ada di rumahnya saat itu.
Pada saat yang bersamaan, ternyata Rasulullah SAW ketika itu sedang berada di sisi Ka'bah. Sedangkan rumah Ummu Hani dan Ka'bah memiliki jarak yang cukup jauh sekali.
Ummu Hani menceritakan apa yang disabdakan Nabi adalah sebagai berikut.
Rasulullah SAW bersabda,
"Wahai orang-orang yang beriman, dengan lidahnya dan tak memurnikan keimanan dari hatinya, janganlah kalian memfitnah kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari cacatnya. Dan barangsiapa yang cacatnya dicari-cari oleh Allah SWT, maka Dia akan membuka kejelekan di tengah rumahnya."
Subhanallah...
Ucapan Rasulullah SAW tersebut mampu menembus dinding pembatas rumah-rumah para penduduk ketika itu. Sehingga banyak muslimah yang berada di dalam kamarnya juga mampu mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tersebut, termasuk Ummu Hani. Padahal jarak mereka dengan Rasulullah SAW cukup jauh dan tidak ada pengeras suara.
Subhanallah....
Subscribe to:
Posts (Atom)


.jpg)


